Mereka yang terkena kasus penodaan agama..... - Resonansi.id

Cerita | Penelusuran | Rangkuman | Tutorial

Hot

Post Top Ad

Tuesday, May 09, 2017

Mereka yang terkena kasus penodaan agama.....


Kasus penodaan agama adalah kasus yang begitu sensitif.Kasus yang gampang menyulut kemarahan orang.Sebelum kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama,di masa lalu pernah terjadi kejadian serupa.Di Sidoarjo bahkan dimulai dari hal yang terlihat sepele.Sebuah perbincangan antara dua orang bertetangga,namun akhirnya menyulut kerusuhan rasial yang meluas.

Kami merangkum beberapa kasus penodaan agama yang terjadi di masa lampu dari beberapa sumber.Tidak semuanya kami cantumkan,karena ternyata kalau ditelusuri daftarnya banyak sekali.Yang perlu diketahui adalah bahwa kasus penodaan agama yang sampai masuk ke pengadilan tidaklah semata-mata menimpa agama Islam.Ada juga kasus penodaan agama yang menimpa agama lain.
1.             Permadi
Permadi gampang dikenali dengan kegemarannya mengenakan pakaian serba hitam Selain sebagai seorang paranormal,Permadi juga dikenal sebagai pengagum Soekarno.Tak heran kalau Permadi menjadi anggota PDIP,bahkan dengan keanggotaanya di PDIP mengantarkan Permadi menjadi anggota DPR pada tahun 1999.Belakangan Permadi memilh bergabung dengan Partai Gerindra.

Berawal dari diskusi  dalam Panel Forum Lembaga Kepresidenan di kampus UGM pada tanggal 28 April 1994.Permadi menjadi panelis bersama Ali Hardi Kyai Demak(PPP), Dr. Amien Rais, Mantan Mendagri Rudini, Soetardjo Surjoguritno mewakili PDI dan Adnan Buyung Nasution.Pangkal permasalahannya adalah Permadi berucap bahwa Nabi Muhammad  adalah seorang Diktator.

Dalam ceramahnya tersebut Permadi mengatakan bahwa undang-undang dasar memungkinkan presiden menjadi diktator secara konstitusional. “Soekarno diktator, Soeharto dictator.Salah seorang peserta diskusi,Refly Harun,mengatakan bahwa ada satu diktator  yang baik yaitu Nabi Muhamamad SAW karena diktator bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan ummatnya.Menanggapi pertanyaan seorang peserta tersebut,Permadi mengatakan,”Diktator juga bisa baik kalau digunakan untuk kepentingan rakyat.Nabi Muhammad adalah diktator yang baik”.

Setahun berselang potongan rekaman ceramah tersebut beredar.Permadi mendapatkan protes dimana-mana.Permadi dianggap melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.Lewat serangkaian proses peradilan,pada tanggal 11 September 1995,Pengadilan Negeri Sleman menjatuhkan vonis 7 bulan penjara dipotong masa tahanan.
  
2.             HB Yassin
Sebelum hadirnya Majalah Horison yang kita kenal sekarang,Majalah Sastra lebih dahulu terbit. Majalah yang memuat tulisan berupa cerita pendek,puisi dan kritik sastra ini terbit pertama kali 1 Mei 1961 dengan HB Jassin sebagai Pemimpin Redaksinya.Tak berumur lama,pertentangan dengan Lekra membuat Majalah Sastra menjadi bulan-bulanan hasutan,tekanan dan fitnah.Bulan Maret 1964,Majalah Sastra terpaksa berhenti.

Periode kedua Majalah Sastra dimulai pada bulan November 1967. Dalam terbitan majalah Sastra  Th VI No 8, Edisi Agustus 1968,Majalah Satra mempublikasikan sebuah cerita pendek “Langit Makin Mendung” karya seorang pengarang dengan nama pena Ki Panji Kusmin yang kemudian menuai kontroversi.Cerpen ‘Langit Makin Mendung” dianggap melakukan penghinaan terhadap ajaran Islam.Majalah Sastra dilarang terbit di Sumatra Utara.Kantor Majalah Sastra di Jakarta diserang massa

Penulis Jusuf Abdullah Puar (1968) menyebutkan bahwa Langit Makin Mendung jika dilihat dari sudut isi, tidak diragukan lagi, telah menghina, melecehkan, dan mencemooh Nabi Muhammad dengan penuh tendensi sinisme terhadap junjungan umat Islam.

Langit Makin Mendung bercerita tentang para Nabi yang sudah pensiun di Sorga Loka.Merasa bosan para Nabi mengajukan petisi kepada Tuhan agar diijinkan untuk melakukan perjalanan turba (turun ke bawah ) ke bumi. Nabi Muhammad SAW sebagai penanda tangan pertama petisi tersebut terlebih dulu mendapat giliran.Bersama Jibril,Nabi Muhammad mengedarai Buraq.Di angkasa Buraq bertabrakan dengan pesawat luar angkasa milik Rusia,Sputnik. Buraq dan Sputnik sama-sama hancur.Muhammad dan Jibril terpental jatuh di awan yang berada di atas Jakarta.Di atas awan Jakarta Jibril bererita bahwa di Jakarta hampit takluk dengan ajaran Nabi palsu yaitu Nasakom.Di atas pasar Senen aroma mesum menyengat.Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!",JIbril berucap.

Siapa sebenarnya Ki Panji Kusmin,HB Jassin tidak bersedia mengungkapkan.Sebagai Pemimpin Redaksi maka HB Jassin yang harus bertanggung jawab terhadap pemuatan cerita pendek Langit Makin Mendung. Tanggal 28 Oktober 1970 pengadilan akhirnya memutuskan vonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.Jauh sebelum itu pada Oktober 1969 Majalah Sastra sudah berhenti terbit.

3.             Arswendo Atmowiloto
Tabloid Monitor sukses berkat olahan tangan dingin Arswendo Atmowiloto.Ini adalah kali ke 3 Monitor di upayakan untuk terbit kembali.Pada awalnya,Monitor terbit dalam format majalah pada tahun 1972 diterbitkan oleh Direktorat TV Departemen Penerangan .Hanya bertahan 20-an edisi untuk selanjutnya mati suri pada tahun 1973.

Pada tahun Agustus 1980,melalui Yayasan Gema Tanah Air,Monitor kembali dibangkitkan dengan tenaga-tenaga professional.Hasilnya tidak terlalu menggembirakan.Tiras yang minim memuat kadang terbit kadang tidak terbit untuk kemudian kembali tumbang pada tahun 1984.

Di tangan Arswendo,Monitor mengalami sukses besar.Oplah tertingginya mencapai 814.000 eksemplar.Terbit dalam format tabloid,ukuran 280x410 mm yang lebih kecil dari koran harian,Monitor menampilkan diri sebagai media hiburan yang ringan dengan menjual penampilan yang sexy.Arswendo menyebut sebagai jurnalisme “ser” dan “lher”.

Dalam penerbitannya Monitor biasa menampilkan sampul dengan model berpenampilan sexy untuk ukuran waktu itu dengan caption yang mengundang dan asosiatif.Bahkan untuk artis-artis yang biasa dikenal tampil sopan.Seperti pada Monitor edisi 55 tanggal 18 November 1987,sampul menampilkan Diana Nasution berkostum sport dengan posisi satu kaki diangkat dan diberi judul sampul “Suami bisa lebih keras lagi”.

Tak cukup lama Arswendo menikmati kesuksesannya.Malapetaka itu datang pada edisi 255 tanggal 15 Oktober 1990.Berdampingan foto sampul yang menampikan Nia Dicky Zulkarnain,Monitor mempublikasikan hasil Kuis “Kagum 5 Juta”,sebuah kuis untuk memilih tokoh idola yang dikagumi dengan hadiah total Rp. 5 juta untuk 100 orang pemenang.Tidak ada kriteria khusus untuk tokoh yang dipilih.

Total ada 33.963 lembar kartu pos yang masuk.Hasil perhitungan kartu pos yang kemudian dipublikasikan pada Monitor edisi 255  tersebut adalah
1.Soeharto (5003 pemilih)
2.BJ Habibie (2975 pemilih)
3.Soekarno(2622 pemilih)
4.Iwan Fals (2431 pemilih)
5.KH. Zainudin MZ(1633 pemilih)
6.Try Sutrisno(1477 pemilih)
7.Saddam Hussein(847 pemilih)
8.Siti Hardiyanti Indra Rukmana (800 pemiih)
9.Harmoko(797 pemilih)
Ada sebanyak 50 tokoh pilihan pembaca yang dipublikasikan.Arswendo sendiri berada di peringkat 10 dengan 663 orang pemilih.Di peringkat 11 ada Nabi Muhammad SAW.

Sehari kemudian Monitor dihujani protes dimana-mana.Penempatan Nabi Muhammad SAW di bawah Arswendo mengundang kemarahan ummat.Secara sporadis massa mulai berdatangan ke kantor redaksi Monitor.Demonstrasi terjadi di berbagai kota.19 Oktober 1990 pemintaan maaf Arswendo ditayangkan di TVRI tak mampu mendinginkan suasana.Pun suara-suara teduh untuk menetralisir dari Djarnawi Hadikusumo(PP Muhammadiyah) dan Gus Dur hanya sayup-sayup terdengar.Alhasil SIUPP Monitor nomor 194/1984 dicabut oleh Menteri Penerangan saat itu.Monitor tumbang dan Arswendo diadili.PN Jakarta Pusat memvonis Arswendo 5 tahun penjara.
  
4.             Muhammad Saleh
Inilah kasus penistaan agama yang mengundang kerusuhan rasial.Sebanyak 21 bangunan yang terdiri dari Gereja,Sekolah Kristen/Katolik dan Panti Asuhan dibakar.9 bangunan lainnya dihancurkan. Di GPPS (Gereja Pantekosta Pusat Surabaya) Jalan Basuki Rahmat Situbodo bahkan memakan korban jiwa.Gereja yang menjadi satu dengan Paroki (Rumah Kependetaan) dikepung massa dan dibakar.Ada tujuh orang penghuni Paroki,5 orang meninggal dan  2 orang lainnya bisa meloloskan diri.The Indonesia Legal Resources Center(ILRC) dalam jurnalnya menyebut kerusuhan ini mneyebar dalam rentang 100 km dari Situbondo.

Berawal dari perbincangan antara Muhammad Saleh,28 tahun,seorang penjaga Masjid Nurul Islam dengan tetangganya,KH Zaini,pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hikam di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.Dalam perbincangan itu Saleh mengatakan bahwa Allah itu mahluk biasa dan KH As’ad Syamsul Arifin, pendiri pondok pesantren Salafiyah As’syafiiyah, Situbondo, meninggalnya tidak sempurna.KH As’ad Samsul Arifin adalah tokoh nasional dan ulama besar NU yang disegani dan dihormati.

Konon perbincangan ini oleh KH Zaini dilaporkan ke  NU Situbondo dengan maksud agar NU Situbondo menuntut Saleh ke Pengadilan.Dengan pertimbangan Saleh bukan orang berpengaruh,belum berkeluarga dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,NU Situbondo bermaksud menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.Namun KH Zaini tetap kukuh pada pendiriannya.Akhirnya KH Zaini sendiri yang melaporkan Saleh ke Kepolisian dan kasus bergulir ke pengadilan.  

Sidang keempat kasus ini pada tanggal 3 Oktober 1996,Saleh membantah telah melakukan penodaan agama. “Saya datang hanya untuk musyawarah dan saya ingin tahu tanggapan Kyai Zaini apakah pendapat saya betul atau tidak,’demikian pernyataan Saleh.Di sini potensi kerusuhan sudah terlihat.Seusai sidang massa berteriak-teriak,”Bunuh Saleh”.10 orang diantaranya menaiki atap,membuka genteng dan menjebol plafon untuk kemudian menganiaya Saleh di dalam penjara.

Tanggal 10 Oktober 1996,sidang kasus penodaan agama Saleh sudah memasuki tahap tuntutan Jaksa.Ribuan massa sudah memadati PN Situbondo sejak pagi.Tak ada keriuhan berarti selama sidang sampai Jaksa membacakan tuntutan hukuman 5 tahun penjara sesuai pasal 156a KUHP tentang penodaan agama.

Kerusuhan sebenarnya baru dimulai seusai sidang.Massa tidak puas dengan tuntutan jaksa.Sebagian massa  ingin Saleh dihukum mati.Isu mulai berhembus bahwa Hakim yang bertugas beragama Kristen,padahal ketiga hakim semuanya beragama Islam.Massa yang beringas merangsek ke dalam gedung PN dan melakukan pelemparan batu ke dalam gedung PN.Sebagian masa malah melakukan pembakaran kendaraan.Ada 3 mobil yang dibakar di depan gedung PN Situbondo.

Di tengah kekacauan,berhembus isu,Saleh diamankan ke Gereja Bukit Sion yang berjarak 200 meter dari PN Situbondo.Massa yang kalap bergerak ke Gereja Bukit Sion untuk kemudian membakar Gereja Bukit Sion.Setelah dari Gereja Bukit Sion,massa mencari sasaran lain.Sejumlah Gereja,Sekolah Kristen/Katolik dan Panti Asuhan menjadi korban.Dan kerusuhan tersebut baru berhenti setelah 7 jam berlangsung.

Referensi :
Jurnal The Indonesian Legal Resoures Centre,Langit makin mendung,Pengantar Sastra Indonesia ,Langit makin mendung

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad